Hanya mampu menunggu waktu, dan senja yang selalu datang tepat waktu.
ketikasenja mulai berlalu, sang malam pun datang dengan angkuh.
meskipun bulan dan bintang bersinar terang , tetap saja dinginnya malam mampu membekukan hati yang sempat tak tersentuh.
berharap mendapat satu senyum hangat yang mampu melelehkan kembali hati yang telah beku.
dan sinar mentari akan membantunya agar tetap utuh.
tapi lagi dan lagi.. sebuah senyum tak akan pernah mampu lagi melelehkan hati yang telah beku sekeras batu.
sinar mentaripun hanya mampu menjaga di batas waktu tertentu.
hingga senja hilang dan dingin kembali bersama angkuhnya malam.
tuhan.. adakan penjaga bagi hati yang beku ?
dan rela menemaninya di setiap waktu ? di setiap jam ? menit ? dan detik dalam hidupnya ?
tapi tetap saja, penjaga tidak akan mampu memberi seluruh waktunya hanya untuk melelehkan hati yang beku sekeras batu .
karna penjaga bukan udara yang selalu bebas. penjaga tak ubahnya seperti mentari.
yang selalu memiliki putaran waktu tersendiri untuk datang dan pergi.
