Selasa, 09 April 2013

Cahaya

Aku terduduk di bawah cahaya itu, cahaya yang selalu mampu memberi kehangatan untukku, ketika aku terlarut dalam dinginnya kelam, tersudut dengan sepinya malam, aku berharap pada cahaya yang selalu dapat membuatku terjaga dari keterpurukan malam, kepada cahaya yang memberi sedikit sinar kehidupan, kepada cahaya yang selalu memiliki kekuatan untuk sebuah pengharapan.

Kini aku berjalan bersamaan dengan putaran cahaya, cahaya yang selalu memutar mengakhiri twilightnya (peristiwa cahaya Matahari terlihat mulai akhir senja hingga fajar) dan menuju terangnya. aku berjalan lurus memandang ke atas, sekilas terlihat lingkaran cincin sebuah cahaya , seperti cincin kehidupanku yang tak akan pernah terlepas dari kelam malam dan sepinya. seperti lingkaran hidup yang senantiasa mengikutiku dari sudut nyata hingga kesudut mayaku, seperti lingkaran hidup yang tak henti merusak imajinasi nyataku. hingga akhirnya cincin itu hilang bersamaan dengan redupnya cahaya di ujung senja.

langkahku seketika terhenti, memandang senja yang kian menepi, yah.. aku terhenti di ujung senja itu, karna kelam dan sepinya malam akan mengikatku kembali,membiarkanku terlentang di peraduan yang terasa pilu. membiarkanku menunggu dengan hati sembilu. hingga kutemukan secercah cahaya abadiku yang tak akan hilang dalam senja itu.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar